PWNU DKI Jakarta

Gelar FGD Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Komunitas

Pendekatan Komunitas dalam Penanganan Sampah Organik Jakarta:

Alternatif Solusi dan Partisipasi

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta melalui program NU Mendengar menggelar Focus Group Discussion (FGD) I bertajuk “Pendekatan Komunitas dalam Penanganan Sampah Organik Jakarta: Alternatif Solusi dan Partisipasi”, di Aula Kantor PWNU Jakarta, Jalan Utan Kayu Raya, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, Kamis (23/10/2025), siang.   

Koordinator NU Mendengar Abdul Aziz menjelaskan bahwa lebih dari 60 persen sampah Jakarta bersumber dari sampah organik yang berasal dari rumah tangga, area komersial, dan pasar. Hal ini menandakan perlunya keterlibatan masyarakat atau komunitas dalam mengelola sampah tersebut

“Meski regulasi telah lengkap, partisipasi masyarakat baru mencapai sekitar 13%, sehingga dibutuhkan pendekatan baru berbasis komunitas,” ucapnya.   Ia menyampaikan bahwa NU turut mengambil peran aktif dalam isu lingkungan karena persoalan sampah bukan hanya masalah teknis, tetapi juga moral dan spiritual. Aziz mengutip Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia sebagai refleksi penting perlunya perubahan perilaku sosial.

“Kita mulai perubahan bukan dari TPA, tapi dari tangan-tangan kita yang mau bergerak,” tegasnya.  

@hajiabdulazizse Dari MoU → Pelatihan → FGD-1 → FGD-2… NUMendengar kini masuk FGD-3! 🌿✨ Saatnya merumuskan kerangka kerja sama NU Jakarta x Pemprov DKI untuk wujudkan ekosistem ekonomi sirkular berbasis urban farming & pengolahan sampah organik. Gerakan ini baru dimulai. 💚 #NUMendengar #FGD3 #NUJakarta #JakartaHijau #ekonomisirkular @pramonoanung @NU Online @nujakartaonline @Yuke Yurike @budidayamaggotbsf.com @Gus Ondoy Channel @ida mahmudah @mahyudi.id @Yai Maggot @Ima Mahdiah @Taufik Damas @Nusron Wahid official ♬ suara asli - albyfaqeh

Ia turut menjelaskan bahwa PWNU DKI Jakarta berkomitmen membangun Simpul Pengolah Sampah Organik (PSO) di tiga level ;

  • Pertama, di level komunitas, bekerja sama dengan DLH, DKPKP, dan Baznas melalui integrasi konsep urban farming dan pembiayaan ekonomi sirkular.
  • Kedua, di level menengah dengan memanfaatkan fasilitas pengelolaan di area komersial bersama BUMD Horeka.
  • Ketiga, di level besar yang difokuskan pada pengelolaan sampah organik di Pasar Induk Kramat Jati yang menghasilkan hingga 120 ton sampah per hari.

Aziz menyampaikan bahwa melalui kolaborasi dengan lima entitas utama yakni DLH, DKPKP, Baznas DKI, Jakpro, Jaktour, Sarana Jaya dan Pasar Jaya, program ini menargetkan pengolahan hingga 10 persen timbulan sampah organik Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan ekonomi sirkular akan menjadi kunci, karena selain ramah lingkungan, juga memberikan nilai ekonomi langsung kepada warga.    Ia menyampaikan bahwa FGD-I ini menjadi langkah awal menuju penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara NU Jakarta dan mitra pemerintah serta BUMD, yang akan diperluas ke sektor ekonomi sirkular dan pembiayaan sosial lingkungan.  

“Mari kita gunakan dua jam ke depan dengan sebaik-baiknya untuk merumuskan masa depan pengelolaan sampah organik Jakarta yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan,” tutupnya.  

Acara ini dihadiri perwakilan pemerintah daerah, BUMD, dan lembaga zakat, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Perumda Pasar Jaya, PT Jakarta Propertindo (Jakpro), serta Baznas Provinsi DKI Jakarta.

Kutip ; NU-Online Jakarta

Scroll to Top